Bojonegoro – Perekonomian Kabupaten Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bojonegoro, pertumbuhan ekonomi secara tahunan (year on year/yoy) mencapai 0,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sementara secara triwulanan (quarter to quarter/qtq), ekonomi Bojonegoro tumbuh 2,52 persen dibandingkan Triwulan IV Tahun 2025.
Kepala BPS Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah dalam beberapa periode terakhir masih dipengaruhi dinamika sektor minyak dan gas bumi (migas). Pada Triwulan I Tahun 2024, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro bahkan sempat terkontraksi hingga minus 3,72 persen akibat penurunan lifting migas yang signifikan.
Meski demikian, pada Triwulan I Tahun 2026 sejumlah sektor nonmigas mencatatkan pertumbuhan yang cukup kuat. Sektor pertanian tumbuh 11,38 persen, sektor perdagangan meningkat 6,46 persen, dan industri pengolahan tumbuh 5,22 persen. Selain itu, sektor jasa lainnya serta akomodasi dan penyediaan makan minum juga mencatat pertumbuhan di atas 10 persen.
Menurut Syawaluddin, pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah secara tahunan disebabkan oleh kontraksi sektor pertambangan dan penggalian yang mencapai 8,78 persen. Padahal sektor tersebut masih menjadi penyumbang terbesar dalam struktur ekonomi Bojonegoro.
“Sektor pertambangan masih memiliki kontribusi sekitar 42,03 persen terhadap perekonomian Bojonegoro. Namun, kontribusinya terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu,” ujarnya.
Di sisi lain, kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bojonegoro terus meningkat. Jika sebelumnya berada di kisaran 14 persen, kini mencapai 17,1 persen. Sektor perdagangan, industri pengolahan, dan konstruksi juga menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Triwulan I Tahun 2026 turut didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga sebesar 6 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 5 persen, serta konsumsi pemerintah yang tumbuh 20,45 persen. Peningkatan konsumsi pemerintah antara lain ditopang oleh sejumlah program pemerintah yang berjalan pada periode tersebut.
Secara struktur ekonomi, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dengan kontribusi 46,22 persen, disusul net ekspor sebesar 29,5 persen.
Sementara dari sisi kewilayahan, kontribusi perekonomian Bojonegoro terhadap perekonomian Jawa Timur mencapai 3,2 persen. Capaian tersebut menempatkan Bojonegoro sebagai penyumbang perekonomian terbesar ke-9 di Jawa Timur.
Syawaluddin menilai pertumbuhan sektor perdagangan dan transportasi menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi masyarakat terus bergerak. Meskipun sektor pertambangan mengalami penurunan, sejumlah sektor lainnya mampu mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi daerah.
“Pertumbuhan ekonomi Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 masih tertahan oleh penurunan sektor pertambangan. Namun sektor-sektor lainnya menunjukkan pertumbuhan yang positif,” katanya.
(Data dan keterangan bersumber dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Bojonegoro. Berita disusun untuk tujuan informasi publik dan tidak mengubah substansi data yang disampaikan narasumber)
Penulis : Redaksi