Breaking News
SastraBuana.com - Media Informasi Digital Terpercaya | Cepat, Akurat, Berimbang | Update berita nasional, internasional, ekonomi, hukum, TNI dan Polri setiap hari

Pertanian Tumbuh 11,38 Persen, Jadi Penopang Ekonomi Bojonegoro di Tengah Penurunan Sektor Migas

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggelar diskusi bertajuk Membaca Bojonegoro dalam Angka bersama Badan Pusat Statistik (BPS), sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), dan jurnalis di ruang kerja Wakil Bupati Bojonegoro, Senin (8/6/2026).
 Forum tersebut membahas perkembangan ekonomi daerah serta sektor-sektor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa perekonomian Bojonegoro pada triwulan I tahun 2026 masih mencatat pertumbuhan positif meskipun sektor pertambangan dan penggalian mengalami penurunan akibat berkurangnya lifting minyak dan gas bumi (migas).

Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bojonegoro secara tahunan (year on year) pada triwulan I 2026 mencapai 0,02 persen. Angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan kondisi tahun 2023 yang sempat mengalami kontraksi hingga minus 3,49 persen.
Menurutnya, meski sektor pertambangan mengalami penurunan sebesar 8,78 persen, sektor pertanian justru mencatat pertumbuhan signifikan hingga 11,38 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor nonmigas masih memiliki peran penting dalam menopang perekonomian daerah.

“Program-program yang menyasar sektor pertanian, kesehatan, dan pendidikan terbukti mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.

Selain itu, berdasarkan data kawasan Gerbangkertosusila Plus, Kabupaten Bojonegoro tercatat memberikan kontribusi sebesar 3,20 persen terhadap perekonomian Jawa Timur dan menempati peringkat kesembilan di antara sembilan wilayah yang tergabung dalam kawasan tersebut.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menyampaikan bahwa secara keseluruhan PDRB Kabupaten Bojonegoro masih tumbuh positif. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kinerja sektor pertanian yang meningkat cukup tinggi.

Ia menjelaskan bahwa sektor pertambangan saat ini masih menjadi kontributor terbesar perekonomian Bojonegoro dengan porsi sekitar 46 persen. Namun ketika sektor tersebut mengalami perlambatan, pertumbuhan sektor pertanian mampu menahan laju penurunan ekonomi sehingga tidak masuk ke zona negatif.

“Pertumbuhan pertanian yang tinggi menjadi faktor penting yang menjaga ekonomi Bojonegoro tetap tumbuh positif meskipun sektor pertambangan mengalami kontraksi,” katanya.

Lebih lanjut, Syawaluddin menilai pertumbuhan ekonomi yang ideal adalah pertumbuhan yang inklusif, yakni memberikan manfaat secara merata kepada masyarakat. Dalam konteks Bojonegoro, sektor pertanian dinilai masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat karena melibatkan lebih banyak pelaku usaha dan tenaga kerja dibanding sektor pertambangan.

Data BPS menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB Kabupaten Bojonegoro dipengaruhi oleh berbagai lapangan usaha, mulai dari pertambangan, pertanian, perdagangan, industri pengolahan, konstruksi, informasi dan komunikasi, transportasi, jasa keuangan, pendidikan, kesehatan, hingga sektor pariwisata dan rekreasi. Pemerintah daerah juga menilai sejumlah sektor lain seperti pengadaan air, listrik, dan gas masih memerlukan stimulus untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian.

Diskusi tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus perumusan strategi pembangunan ekonomi daerah agar pertumbuhan yang tercipta tidak hanya bergantung pada sektor migas, melainkan juga ditopang oleh sektor-sektor produktif yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Penulis : Supriyanto 
Lebih baru Lebih lama