BOJONEGORO – Kasus patah tulang memerlukan penanganan medis yang tepat dan cepat. Sayangnya, sebagian masyarakat masih memilih jalan pintas dengan mengurut atau memijat bagian yang cedera. Padahal, metode tradisional tersebut justru berisiko tinggi memperparah kondisi pasien.
Fenomena ini dikupas tuntas dalam talkshow edukatif program SAPA! (Selamat Pagi Bojonegoro) di Radio Malowopati FM pada Jumat (22/5/2026). Diskusi interaktif bertajuk “Mitos/Fakta, Patah Tulang Harus Selalu Dioperasi?” ini merupakan hasil kerja sama antara Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro.
Hadir sebagai narasumber utama, dr. Muhammad Wildan Faris, Sp. OT, yang merupakan Dokter Spesialis Orthopedi dari RSUD Sumberrejo, Bojonegoro, dengan dipandu oleh host Lia Yunita.
Dalam pemaparannya, dr. Faris meluruskan mitos yang berkembang di masyarakat bahwa patah tulang harus diurut agar posisinya kembali normal. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut sangat berbahaya jika dilakukan tanpa diagnosis medis yang jelas.
Penanganan yang salah pada patah tulang dapat merusak jaringan saraf, pembuluh darah, hingga menyebabkan kecacatan permanen. Karena itu, masyarakat perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami benturan keras atau cedera,” jelas dr. Faris.
Menjawab pertanyaan besar masyarakat mengenai tindakan bedah, dr. Faris menjelaskan bahwa operasi bukanlah satu-satunya jalan. Banyak kasus patah tulang yang bisa disembuhkan melalui penanganan konservatif (non-bedah).
Penanganan Non-Bedah (Konservatif): Pemasangan gips, bidai (spalk), atau traksi. Metode ini efektif dilakukan jika posisi tulang yang patah masih cenderung stabil dan tidak bergeser jauh.
Penanganan Lewat Operasi: Tindakan bedah baru akan diambil pada kondisi tertentu, seperti:
- Patah tulang terbuka (tulang menembus kulit).
- Posisi tulang bergeser jauh dari tempat semula.
- Cedera disertai kerusakan jaringan tubuh lain.
- Patah tulang di area spesifik yang membutuhkan stabilitas ekstra.
Lebih lanjut, dr. Faris mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan cedera sekecil apa pun. Meskipun rasa nyeri masih bisa ditahan, menunda pemeriksaan medis dapat berakibat fatal pada proses pemulihan.
"Cedera tulang yang dibiarkan tanpa penanganan medis berisiko membuat tulang menyatu dengan posisi yang tidak sempurna (malunion) atau bahkan tidak menyatu sama sekali (nonunion)," tambahnya.
Di akhir talkshow, ia menyarankan masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan penunjang. “Sebaiknya lakukan pemeriksaan medis secepatnya menggunakan X-ray (poto rontgen) agar dokter dapat menentukan dengan akurat apakah cedera Anda memerlukan operasi atau cukup ditangani secara konservatif,” pungkasnya.
Melalui edukasi ini, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap masyarakat dapat lebih bijak, tidak mudah termakan mitos, dan selalu mengutamakan penanganan medis yang ilmiah demi keselamatan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Penulis : Supriyanto