Breaking News
SastraBuana.com - Media Informasi Digital Terpercaya | Cepat, Akurat, Berimbang | Update berita nasional, internasional, ekonomi, hukum, TNI dan Polri setiap hari

Festival Samin Satu Dekade Jadi Ruang Pelestarian Nilai Luhur dan Budaya Sedulur Sikep


BOJONEGORO – Upaya pelestarian budaya Samin terus dilakukan melalui kegiatan Ngangsu Kawruh Samin 1 Dekade Festival Samin yang digelar di Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali sejarah, nilai-nilai luhur, serta kekayaan budaya masyarakat Sedulur Sikep kepada generasi muda dan masyarakat luas.

Dalam kesempatan itu disampaikan bahwa budaya Samin telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2019. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga kembali mengusulkan salah satu tradisi masyarakat Samin, yakni Gumbregan, untuk memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional pada tahun 2026.

Menurut keterangan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga identitas budaya, melestarikan kearifan lokal, serta menghormati warisan nilai yang telah diwariskan oleh para leluhur kepada masyarakat hingga saat ini.

Sementara itu, Bambang Sutrisno, yang diperkenalkan sebagai generasi kelima keturunan Samin Surosentiko, menjelaskan bahwa nilai-nilai ajaran Samin pada dasarnya tetap dipertahankan dari generasi ke generasi. Namun, perkembangan zaman membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, terutama pada pembangunan fisik dan infrastruktur.

Ia mencontohkan perubahan yang terjadi di wilayah tempat tinggal masyarakat Samin. Infrastruktur jalan yang sebelumnya masih sederhana kini telah mengalami peningkatan, termasuk pembangunan jalan beton dan jalan paving di Dusun Jepang.


Bambang juga menyampaikan kisah yang diwariskan mengenai pesan Samin Surosentiko sebelum wafat. Menurut cerita yang berkembang di kalangan masyarakat Samin, kemerdekaan dapat terwujud ketika pemimpin dan rakyat menjalankan kehidupan sesuai aturan yang berlaku. Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui sikap bekerja keras, menanam kebaikan, dan menghormati hak milik orang lain.

"Ajaran Samin mengajarkan agar tidak melakukan perbuatan yang buruk. Perlawanan terhadap penjajahan dahulu dilakukan tanpa kekerasan, melalui sikap dan perilaku yang mencerminkan keteguhan prinsip," ujar Bambang.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pendekatan perjuangan tanpa kekerasan tersebut melahirkan sebutan Sedulur Sikep, yang menggambarkan sikap masyarakat Samin yang menjunjung persaudaraan, tidak membeda-bedakan sesama, serta mempertahankan nilai-nilai yang diyakini dengan cara damai.

Melalui kegiatan Ngangsu Kawruh Samin 1 Dekade Festival Samin, sejarah perjuangan dan warisan budaya masyarakat Sedulur Sikep kembali diperkenalkan kepada publik. Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung upaya pelestarian budaya sekaligus memperkuat identitas Bojonegoro sebagai daerah yang memiliki kekayaan tradisi dan kearifan lokal.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Dr. Sugeng Wardoyo yang dikenal sebagai penggali motif Obor Sewu, Prof. Catur Suratno dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, serta Dr. Wuryanto dari Universitas PGRI Madiun.


Penulis : Supriyanto 

Lebih baru Lebih lama